Tabanan Kewalahan Penuhi Tingginya Permintaan Telur Free-Range dari Hotel, Produsen Lokal Tersendat

Info Singasana – Permintaan telur free-range dari jaringan hotel di Bali meningkat pesat, namun para produsen lokal di Singasana, Kabupaten Tabanan mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pasar yang terus membesar. Fenomena ini menjadi sorotan karena menunjukkan pergeseran preferensi konsumen terhadap produk sehat dan organik, sekaligus menyoroti keterbatasan kapasitas produksi peternakan lokal.
Kronologi Permintaan dan Produksi
Menurut laporan detikBali, permintaan telur jenis free-range dari hotel-hotel internasional, termasuk jaringan Marriott Group, mencapai sekitar 20.000 butir per hari. Namun, kapasitas produksi lokal saat ini hanya mampu memproduksi 1.500 butir per hari, sehingga terjadi kesenjangan yang cukup signifikan.
Direktur Bisnis Perumda Singasana, I Made Paser Darma Sugiarta, menyebutkan:
“Permintaan terus meningkat, tetapi jumlah peternak dengan sistem free-range di Tabanan sangat terbatas. Saat ini hanya ada dua peternak yang beroperasi dengan sistem ini.”
Harga telur free-range di wilayah Singasana juga mengalami kenaikan signifikan, mencapai Rp 2.300 per butir, dibandingkan telur konvensional dari sistem kandang baterai yang hanya sekitar Rp 1.700 per butir. Hal ini mencerminkan biaya produksi yang lebih tinggi serta kualitas produk yang lebih premium.
Dampak bagi Masyarakat dan Ekonomi Lokal
-
Petani lokal menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan pasar hotel.
-
Konsumen hotel di Bali mulai beralih ke produk telur free-range karena dipandang lebih sehat dan ramah lingkungan.
-
Tekanan harga meningkat di pasar lokal karena terbatasnya suplai, sehingga potensi keuntungan bagi petani juga tinggi jika mampu meningkatkan produksi.
-
Keterbatasan peternak free-range memunculkan peluang bagi investor dan pengusaha lokal untuk mengembangkan usaha agribisnis skala lebih besar.
Upaya Pemerintah dan Swasta
Perumda Singasana bersama pemerintah Kabupaten Tabanan telah menyiapkan beberapa langkah strategis:
-
Pelatihan peternak lokal untuk beralih ke sistem free-range secara bertahap.
-
Kerja sama dengan jaringan hotel dan bisnis pariwisata agar permintaan dapat dipenuhi dengan stabil.
-
Perluasan kapasitas produksi melalui penambahan kandang, pengelolaan ternak, serta sistem distribusi yang efisien.
-
Sosialisasi kepada petani tentang standar kualitas telur free-range agar produk memenuhi persyaratan pasar internasional.
Analisis dan Prospek
Fenomena tingginya permintaan telur free-range menunjukkan pergeseran tren konsumsi di Bali, yang kini semakin mengutamakan kualitas dan keberlanjutan. Bagi Singasana, ini menjadi tantangan sekaligus peluang:
-
Tantangan: keterbatasan jumlah peternak dan modal untuk meningkatkan produksi.
-
Peluang: potensi pengembangan agribisnis organik yang dapat meningkatkan perekonomian lokal dan membuka lapangan kerja baru.
Selain itu, produsen di Singasana perlu mempertimbangkan strategi diversifikasi produk dan pemasaran kreatif agar dapat bersaing dengan produsen luar Bali yang juga mulai merambah pasar free-range.
Kesimpulan
Kondisi ini menegaskan bahwa Singasana, Tabanan, mulai memainkan peran penting dalam sektor agribisnis berbasis kualitas. Pemerintah dan swasta perlu bersinergi untuk meningkatkan kapasitas produksi, menjaga kualitas, dan memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat. Hal ini juga sekaligus menjadi dorongan bagi masyarakat lokal untuk berinovasi dalam pengelolaan ternak dan produk organik.














